Jumat, 03 Juni 2011

Investasi Juga Butuh Rem dan Persneling

Thursday, June 9th, 2011

oleh : A. Mohammad BS




Untuk memberi rasa aman kepada nasabahnya (pemegang polis) dalam urusan investasi, Generali Indonesia mengembangkan sistem otomatis untuk memantau investasi nasabah yang disebut Auto Risk Management System

Apa saja manfaatnya?

The future can’t be predicted. Oleh karena itulah, berkembang produk asuransi. Namun, sebagai sebuah skema investasi, bukan berarti orang yang berasuransi bebas dari rasa khawatir. Sebab, portofolio investasi yang dijalankan perusahaan asuransi pun tak lepas dari risiko.

Nah, demi memberikan rasa aman lebih besar kepada nasabahnya dalam berinvestasi, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia mengembangkan sebuah sistem otomatis. Dengannya, para pemegang polisnya bisa mengelola prospek keuntungan dan risiko kerugian dengan lebih baik. Sistemnya ini disebut Auto Risk Management System (ARMS).

Edy Tuhirman, CEO Generali Indonesia, menjelaskan bahwa dalam asuransi selalu ada dua komponen: proteksi dan investasi. Untuk proteksi Generali menyediakan berbagai program perlindungan, seperti family protection plan, perlindungan cacat tetap, kebutuhan rumah sakit dan pembedahan, melahirkan, rawat jalan hingga perawatan gigi. “Generali menyediakan perlindungan menyeluruh untuk seluruh anggota keluarga,” ucap Edy.

Bagaimana dari sisi investasi? 

Menurut Edy, investasi ini seperti menyetir mobil, sehingga perlu rem, setir, persneling, dan sebagainya. Sebab, jika tak dilengkapi, bisa jadi investasinya anjlok. Misalnya, seseorang yang telah mempersiapkan masa pensiunnya dengan membeli produk asuransi. Diperkirakan, pada waktu tertentu ketika ia mempersiapkan masa pensiun, nilai investasinya mencapai Rp 1 miliar. Akan tetapi, tiba-tiba pasar modal ambruk. Nilai investasi orang tadi turun tinggal hanya – misalnya — Rp 200 juta. 

“Berinvestasi layaknya mengendarai mobil, yang memerlukan instrumen keselamatan semacam rem untuk mengatur risiko. Sebab, tak ada yang mampu memprediksi dan menjamin pasar modal akan bebas dari bahaya,” ujar Edy.

Menurut Edy, ARMS bisa menjadi solusinya. Ia mengklaim, solusi ARMS ini merupakan yang pertama di Indonesia. Apa itu ARMS? Pada dasarnya ini adalah sistem otomatis untuk memantau investasi nasabah. Jadi, dengan adanya ARMS, nasabah dapat menentukan level untuk mengambil untung dan level aman agar tak merugi besar (cut loss). Nasabah tak perlu lagi memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari, karena ARMS yang melakukan secara otomatis. “Ide pengembangan ARMS ini terinspirasi pengalaman beberapa investor saat terjadinya krisis finansial tahun 2008, ketika kondisi pasar di seluruh dunia anjlok,” ungkap Edy.

Bertolak dari pemikiran tersebut, pada awal 2009 tim TI Generali Indonesia mengembangkan ARMS. Menurut Rommy Rukyanto, CIO Generali Indonesia, solusi ARMS dikembangkan di atas core system Life/Asia. “ARMS kami kembangkan sendiri, dengan dibantu konsultan TI. Aplikasi ARMS terhubung dengan aplikasi lainnya menggunakan interface,” ucap Rommy. “Investasinya sangat besar. Tetapi kami mendapat dukungan penuh dari kantor pusat,” Edy menambahkan.

Dijelaskan Rommy, ada beberapa modul dalam ARMS. 

Pertama, Automatic Trading Plan, merupakan fitur dalam berinvestasi, yaitu untuk mencapai target pengembangan dana investasi pada titik tertentu untuk meraih keuntungan (profit taking) atau menghindari terjadinya penurunan kerugian investasi lebih jauh (cut loss). Modul ini diibaratkan dengan sistem rem dalam menjaga investasi agar tidak melewati batas kerugian yang dapat ditolerir. Di sini, nasabah bisa menentukan sendiri nilai profit yang ingin dicapai dan nilai toleransi kerugian yang mampu ditanggung.

Modul kedua, Automatic Asset Rebalancing, merupakan fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya. Modul Auto Balancing diibaratkan sebagai setir atau cruise control yang bekerja untuk menjaga pergerakan investasi selalu dalam profil risiko yang sudah ditetapkan. Jadi, modul ini mampu menjaga pergerakan portofolio investasi nasabah tetap stabil dan sesuai dengan yang ditentukan.

Ketiga, modul Automatic Re-entry, merupakan fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor. Modul Auto Re-entry diibaratkan sebagai persneling otomatis (automatic gear) yang membantu mendeteksi saat yang tepat untuk kembali ke pasar. Dengan modul ini, nasabah secara otomatis dimungkinkan untuk menentukan waktu yang tepat untuk kembali berinvestasi di pasar modal, ketika kondisi pasar sudah mencapai titik yang dikehendaki.

Sekarang, kami juga memiliki sebuah portal yang dapat digunakan oleh nasabah Generali Indonesia untuk memantau maupun mendapatkan informasi detail dari polis mereka,” ujar Rommy.


Modul-modul ARMS
  1. Automatic Trading Plan, fitur investasi untuk mencapai target pengembangan dana investasi pada suatu titik tertentu guna meraih keuntungan (profit taking) atau menghindari terjadinya kerugian lebih jauh (cut loss).

  2. Automatic Asset Rebalancing, fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya. 

  3. Automatic Re-entry, fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor.
Menurut Edy, by nature seorang investor memiliki karakteristik greedy atau penakut. Namun, ARMS membuat nasabah bisa disiplin. Ia menggambarkan contoh seorang investor tamak yang menempatkan modal Rp 100 juta, lalu nilainya naik menjadi Rp 150 juta. Nah, ketika ditawarkan diambil atau tidak, ia tidak mau ambil karena diperkirakan masih bisa naik lagi. Namun, ternyata pasar goyang sehingga modalnya hanya tinggal Rp 60 juta.

Ketamakan dan ketakutan investor ini bisa terjadi di tempat lain, karena tidak punya disiplin. Di Generali ada disiplin, seperti Auto Trading Plan,” ucap Edy. Misalnya, seorang investor masuk dengan modal Rp 100 juta. Sebelumnya, investor telah membuat persetujuan dengan planner: ia akan take profit jika naik 40%, dan cut loss jika minus 10%. Lalu, ia mendapat untung 20%, naik lagi menjadi 30%. Akan tetapi, sistem belum merespons. Nah, ketika keuntungannya naik 40% menjadi Rp 150 juta, sistem secara otomatis akan mengunci untuk ambil keuntungan. Sebaliknya, ketika modalnya turun menjadi Rp 90 juta, sistem langsung melakukan cut loss, untuk dipindahkan ke money market supaya tidak kebablasan (lihat Bagan).

Bagaimana caranya? 

Sistem TI yang melakukan monitoring setiap hari. Ketika sampai pada angka tertentu yang disepakati, sistem secara otomatis akan mengunci dan melakukan switching,” ujar Edy. “Jadi, setiap nasabah tidak perlu memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari. Biarkan sistem kami yang bekerja.”

Menurut Edy, pengembangan ARMS telah memberikan beberapa manfaat, baik kepada nasabah maupun perusahaan. Manfaat paling utama dari ARMS adalah memberikan perasaan aman bagi nasabah dan keleluasaan dalam merancang perjalanan finansial. “Oleh karena merasa aman, impact-nya orang jadi lebih berani berinvestasi, sehingga return lebih tinggi. Investasi jangka panjang jadi lebih bagus,” ujar Edy. “Bagi perusahaan, dengan adanya ARMS ini, cost jadi lebih murah, sehingga jauh lebih efisien,” tambahnya.

Klaim Edy diamini salah satu nasabahnya, Ariyanto Erlangga. Menurut pria berumur 43 tahun yang telah menjadi nasabah Generali sejak April 2011 ini, ARMS yang dikembangkan Generali sangat membantu. Sebab, selama ini ia menjadi pemegang polis dari beberapa perusahaan asuransi, tetapi tidak ada yang memiliki “sistem rem” seperti ARMS di Generali. Akibatnya, kalau saham anjlok, investasi juga menurun. “Saat ini saya tidak takut lagi dalam berinvestasi,” ucap Ariyanto. “Tetapi, perlu sosialisasi secara detail agar kita semua lebih tahu kegunaan ARMS,” tambah Ariyanto menyarankan.

Baik Edy maupun Rommy sepakat bahwa ARMS baru langkah pertama Generali untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada nasabahnya. “Masih banyak rencana yang akan dikembangkan ke depannya. The ultimate goal kami adalah ingin memberikan proteksi kepada nasabah,” ujar Edy.
Perencanaan TI selanjutnya adalah bisa menjadi business driver dibanding hanya menjadi sekadar business support maupun business enabler,” kata Rommy menambahkan. (*)


Tentang Generali Indonesia
  • Generali merupakan perusahaan asuransi dan keuangan global, yang berada di bawah Assicurazioni Generali di Italia. Generali didirikan pada 1831 di Trieste, Italia. Masuk ke Indonesia pada awal 2008.

  • Untuk memasarkan produknya, Generali telah menjalin kerja sama (sebagai produk bancassurance) dengan DBS Indonesia Bank, menawarkan produk Unit Link dengan Auto Risk Management System yang dinamakan iDARE – insurance Dynamic Asset Rebalancing. Juga, dengan ANZ Bank, menawarkan produk asuransi jiwa berbentuk Unit Link dengan pembayaran premi tunggal yang menawarkan alokasi fleksibel antara investasi dan perlindungan jiwa yang sesuai dengan kebutuhan, yang disebut Ultimate Balance Protection (UB Pro).


      



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Kamis, 02 Juni 2011

Asuransi Generali Indonesia juga Lirik Bisnis Asuransi Syariah

Melihat potensi pasar asuransi di Indonesia, terlebih pasar syariah yang penetrasinya masih sangat kecil, Generali Indonesia bersiap terjun dengan mencari partner yang memiliki kesamaan visi dan misi. (Paulus Yoga)


Jakarta – Melihat potensi asuransi syariah yang sangat besar, PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia memberikan sinyal untuk masuk ke pasar asuransi syariah, dengan dukungan partner yang memiliki kesamaan visi dan misi.

"Spot pasar syariah sangat besar, tapi untuk masuk ke bisnis tersebut kita tidak mau lakukan sendiri. Kita akan cari partner untuk bisnis syariah," tutur Presiden Direktur Generali Indonesia Edy Tuhirman, kepada Infobanknews.com, selepas penandatanganan kerjasama bancassurance dengan PT ANZ Panin Bank di Jakarta, Kamis,  9 Desember 2010.

Ia menjelaskan, untuk mencari partner tersebut tidak akan dilakukan dengan sembarangan, haru sesuai dengan komitmen dan nature Generali yang memiliki komitmen jangka panjang.

"Jumlah kustomer tidak menjadi yang terpenting, karena bisa kita kembangkan dengan potensi pasar yang sangat besar. Yang penting kesamaan visi dan misi. Generali sendiri selain di Asia, juga melakukan investasi di Timur Tengah untuk menyasar pasar syariah," terangnya.

Bentuk komitmen jangka panjang tersebut ditunjukkan Generali Indonesia dengan melakukan kerjasama bancassurance dengan beberapa bank, dengan menawarkan produk berpremi tunggal.

"Kita punya produk premi tunggal unit-linked dengan auto reballancing untuk memberikan manajemen risiko, jadi cocok untuk jangka panjang," pungkas Edy. (*)


Sumber: Infobanknews.com, Go to link:
http://www.infobanknews.com/2010/12/asuransi-generali-indonesia-juga-lirik-bisnis-asuransi-syariah



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 30 Mei 2011

Ultimate Balance Protection: Perpaduan Asuransi dan Investasi

Dalam mendukung kebutuhan finansial nasabahnya, ANZ coba menawarkan produk bancassurance Ultimate Balance Protection yang dikembangkan Generali Indonesia, untuk menekan risiko investasi para pemegang polisnya. (Paulus Yoga)

Jakarta – PT ANZ Panin Bank melakukan kerjasama produk bancassurance dengan PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia bernama Ultimate Balance Protection bagi nasabah ritel ANZ di Indonesia.

Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan Direktur Perbankan Ritel ANZ Anthony Soewandy dan Presiden Direktur Generali Indonesia Edy Tuhirman, di Jakarta, Kamis, 9 Desember 2010.

"ANZ memiliki komitmen untuk terus mendukung kebutuhan finansial para nasabah. Kerjasama ini dilakukan sebagai bentuk alternatif dalam memenuhi kebutuhan finansial nasabah yang menginginkan keseimbangan dalam berinvestasi dengan perlindungan yang optimal," tukas Anthony.

Sementara Edy menambahkan, kerjasama tersebut dapat memerluas kemitraan bisnis dengan ANZ dalam menawarkan produk-produk kepada nasabah ANZ untuk perlindungan jiwa dan pengelolaan investasi dengan cara yang mudah dan fleksibel.

"Dengan semakin bertambahnya nasabah ritel ANZ, kami yakin dapat memberikan perpaduan antara investasi dan asuransi yang bernilai tinggi bagi nasabah affluent ANZ. Kerjasama ini juga semakin mengukuhkan komitmen jangka panjang kami di Indonesia," tuturnya.

Produk Ultimate Balance Protection sendiri merupakan produk asuransi jiwa individual unit-linked yang menggunakan automatic risk management system, yang menawarkan fleksibilitas untuk nasabah di Indonesia dalam menentukan trading limit, kemungkinan untuk kembali berinvestasi di pasar modal sesuai dengan portofolio investasi awal nasabah (Re-Entry), serta memetik manfaat dari fasilitas auto balancing atas dana investasi yang dimilikinya.

"Fasilitas auto balancing ini memungkinkan nasabah untuk memantau dan menjaga pergerakan investasi secara optimal, sesuai dengan tujuan finansial dan profil risiko pemegang polis. Dengan single premi minimum Rp50 juta, sesuai dengan tujuan asuransi yang diinginkan," jelas Edy.

Anthony menyatakan, bahwa dengan produk tersebut nasabah dapat memiliki investasi sesuai dengan profil risiko dan nilai return investasi yang menarik.

"Produk ini juga untuk memertajam fokus kami dalam terus meningkatkan layanan yang nyaman dan mebyediakan produk yang terus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan nasabah," pungkasnya. (*)


Sumber: Infobanknews.com, Go to link:
http://www.infobanknews.com/2010/12/ultimate-balance-protection-perpaduan-asuransi-dan-investasi



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Asuransi Generali Indonesia Siap Ramaikan Pasar Unit Link

Generali Indonesia siap mengembangkan pasarnya melalui bancassurance. Tidak lama lagi, perusahaan ini pun siap merekrut agen baru. Jumlah nasabahnya kini sudah mencapai 36 ribu nasabah. (Apriyani Kurniasih)

Sepang, Malaysia – Asuransi Generali Indonesia siap meramaikan persaingan di unit link. Meski perusahaan asuransi asal Italia ini baru meluncurkan produknya pada Agustus 2010 lalu, Presiden Direktur Generali Indonesia Edi Tuhirman, mengaku optimtimis produknya dapat bersaing di pasar.

“Produk unit link kami berbeda. Kami membuat nasabah langsung ambil keputusan saat membeli iDare, dan iDare adalah produk unit link pertama yang memberikan kontrol atas dana yang diinvestasikan di unit link. Bahkan, produk ini kami patenkan” terang Edi saat ditemui Infobanknews.com, di area sirkuit Sepang, Malaysia, pada 9 Oktober 2010.

Menurut Edi, tren produk unit link masih akan sangat menarik dalam beberapa tahun kedepan. Karenanya, Generali Indonesia yang memasarkan produk ini melalui jalur distribusi bancassurance sudah siap dengan berbagai strategi untuk mengembangkannya.

Selain bekerjasama dengan DBS, tahun ini Generali Indonesia akan segera menggaet dua bank lagi. Kemungkinan besar target pasarnya masih sama seperti yang diincar bersama dengan DBS, yaitu segmen menengah ke atas.

Meski belum genap tiga tahun beroperasi di Indonesia, perusahaan yang berada dibawah bendera Generali Group–perusahaan asuransi asuransi jiwa terbesar kedua di dunia–ini telah siap menyusun business plan jangka panjang untuk menggenjot kinerjanya.

Tidak puas hanya sukses menggarap bisnis employee benefit dan masuk ke pasar unit link melalui kerjasama bancassurance, Generali Indonesia mulai melirik untuk merekrut agen.

“Jadi, kami akan segera kembangkan tiga jalur distribusi, yaitu employee benefit, bancassurance dan agen sebagai jalur distribusi yang akan segera kami tekuni. Menyusul kami juga akan segera masuk ke bisnis asuransi syariah,” terang Edi.

Saat ini, Generali grup yang mengembangkan bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian di pasar global telah menguasai aset under management mencapai 400 miliar euro dengan perolehan premi mencapai 70 miliar euro di seluruh dunia.

Sementara itu, Generali Indonesia kini telah memiliki sekitar 36 ribu nasabah dan 110 perusahaan. Dari 110 perusahaan tersebut, 3 sampai 5 perusahaan adalah perusahaan Jepang. (*)


Sumber: Infobanknews.com, Go to link: 
http://www.infobanknews.com/2010/10/asuransi-generali-indonesia-siap-ramaikan-pasar-unit-link



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Minggu, 29 Mei 2011

2013, Aset Generali Bisa Capai Rp 1 T

26 Aug 2010



JAKARTA - FT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali) memproyeksikan nilai aset perseroan bisa mencapai Rp 1 triliun dalam waktu tiga tahun. Saat ini, aset perusahaan masih berada di angka Rp 100 miliar.

"Jangan lihat kami dari angka, sebab kami masih bayi. Kami hadir di Indonesia baru dua tahun. Namun, dalam waktu tiga tahun, kami yakin nilainya sudah triliunan." kata Chief Executive Of Beer Generali Edy Tuhirman kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Edy mengatakan, pertumbuhan aset utamanya ditunjang oleh bisnis asuransi jiwa yang bakal didominasi oleh produk asuransi plus investasi (unit linked). Menurut Edy, unit linked bakal menjadi kontributor terbesar seperti nalnya di induk usaha, yaitu Generali Group, yang bermarkas di Italia dengan nama Assicurazioni Generali S.pA

Dia menilai, pertumbuhan unit linkeddi Indonesia bisa digarap secara serius dan berpotensi bagus karena pasarnya masih sangat besar. Secara khusus, perusahaan meluncurkan produk IDare yang me-nyasar segmen konservatif. Dalam produk tersebut, nasabah diajak untuk berdisiplin dan berani melakukan cut loss serta take profit sesuai dengan portofolio yang telah ditentukan.

Produk ini diklainvnya merupakan unit linked pertama kalinya di Indonesia yang memiliki sistem re-balancing dan dimonitor setiap harinya. "Jadi, nasabah bisa mengatur portofolio investasinya melalui fasilitas autotrading. Produk unit linked yang dipasarkan melalui kanal bancassurance bersama Bank DBS Indonesia bakal menarik orang-orang yang membutuhkan pengaman dalam berinvestasi," tuturnya.

Edy mengatakan, pihaknya tidak ingin dikatakan bersaing dalam mengembangkan unit linked. Sebab, hingga kini masih ada dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 2.000 triliun lebih di perbankan yang belum banyak digarap oleh bancassurance.

Dia menekankan, pihaknya mengikuti tradisi Grup Generali global yang memang kpnserva.tif. Sebanyak 80% investasi Genera* global ditempatkan di obligasi. Generali Indonesia, kata dia, juga hanya menempatkan investasinya di deposito dan obligasi. Perusahaan asuransi dengan peringkat 19 di dunia menurut Fortune 500 tersebut juga memiliki cara berbisnis dengan fokus di satu jenis produk terlebih dahulu.

Hingga Juni 2010, premi yang telah diraup mencapai Rp 43 miliar atau melonjak 290%. Tahun ini, pendapatan premi outstanding selama dua tahun ditargetkan mencapai Rp 600-700 miliar. Minimal, kata Edy, pendapatan premi terkecil yang bisa diraih di akhir tahun mencapai Rp 200-300 miliar. Perusahaan mengandalkan basis nasabah dari Bank DBS untuk mendongkrak pendapatan premi, (gre)


Entitas terkait
Ringkasan Artikel Ini
Menurut Edy, unit linked bakal menjadi kontributor terbesar seperti nalnya di induk usaha, yaitu Generali Group, yang bermarkas di Italia dengan nama Assicurazioni Generali S.pA Dia menilai, pertumbuhan unit linkeddi Indonesia bisa digarap secara serius dan berpotensi bagus karena pasarnya masih sangat besar. Sebab, hingga kini masih ada dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 2.000 triliun lebih di perbankan yang belum banyak digarap oleh bancassurance. Minimal, kata Edy, pendapatan premi terkecil yang bisa diraih di akhir tahun mencapai Rp 200-300 miliar. 
( Sumber:  Bataviase.co.id, Go to link:  http://bataviase.co.id/node/358063 )



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Sabtu, 28 Mei 2011

Luncurkan iDare, DBS dan Generali Indonesia Jalan Beriringan

Untuk memberikan jaminan dalam berinvestasi, Generali Indonesia dan DBS menyiapkan produk yang mengedepankan inovasi manajemen resiko dalam iDare. (Paulus Yoga)

Jakarta – PT Bank DBS Indonesia dan PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia melakukan kerjasama bancassurance dengan meluncurkan iDare, produk unit-linked pertama di Indonesia yang menggunakan sistem auto balancing.

Penandatanganan kerjasama, yang ditandai dengan peluncuran produk tersebut dilakukan di Jakarta, pada 5 Agustus 2010.

"Produk asuransi jiwa individual pertama dari Generali Indonesia ini menawarkan fleksibilitas untuk nasabah di Indonesia dalam menentukan trading limit, kemungkinan untuk kembali berinvestasi di pasar modal (Re-Entry) serta memetik manfaat dari fasilitas auto balancing," ujar CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman.

Sementara itu, Head of Consumer Banking DBS Indonesia Steffano Ridwan menambahkan, fasilitas auto balancing tersebut memungkinkan nasabah untuk memantau dan menjaga pergerakan investasi secara optimal, sesuai dengan tujuan finansial dan profil resiko mereka.

"DBS Indonesia bangga tidak hanya menjadi agen penjual pertama produk iDare, tapi juga menjadi yang pertama untuk memperkenalkan instrumen investasi dengan fitur auto balancing bagi para nasabah Treasures kami di Indonesia yang sudah mencapai 16.000 orang dengan minimal investasi senilai Rp1 miliar," tuturnya.

Edy menjelaskan, iDare memudahkan nasabah Generali Indonesia untuk mengontrol resiko investasi sekaligus menikmati keuntungan maksimal dari pasar dengan perlindungan seumur hidup.

"Para nasabah juga dapat keluar dan kembali berinvestasi di pasar untuk mengimbangi volatilitas yang tinggi, dengan premi tunggal minimal sebesar Rp100 juta dimana nasabah memperoleh keuntungan penyesuaian dana investasi sesuai kebutuhan, manajemen resiko yang baik dan pemantauan setiap hari," tukasnya. (*)


Sumber: Infobanknews.com, Go to link:
http://www.infobanknews.com/2010/08/luncurkan-idare-dbs-dan-generali-indonesia-jalan-beriringan



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Jumat, 27 Mei 2011

Generali adalah Perusahaan Terbesar Ranking 19 Dunia versi FORTUNE GLOBAL 500 Tahun 2010



Global 500
Rank       Company      Revenues
($ millions)    
Profits
                 ($ millions)

1

Wal-Mart Stores  

408,214

14,335
2 Royal Dutch Shell 285,129 12,518
3 Exxon Mobil 284,650 19,280
4 BP 246,138 16,578
5 Toyota Motor 204,106 2,256
6 Japan Post Holdings 202,196 4,849
7 Sinopec 187,518 5,756
8 State Grid 184,496 -343
9 AXA 175,257 5,012
10 China National Petroleum 165,496 10,272
11 Chevron 163,527 10,483
12 ING Group 163,204 -1,300
13 General Electric 156,779 11,025
14 Total 155,887 11,741
15 Bank of America Corp. 150,450 6,276
16 Volkswagen 146,205 1,334
17 ConocoPhillips 139,515 4,858
18 BNP Paribas 130,708 8,106
19 Assicurazioni Generali 126,012 1,820
20 Allianz 125,999 5,973
21 AT&T 123,018 12,535
22 Carrefour 121,452 454
23 Ford Motor 118,308 2,717
24 ENI 117,235 6,070
25 J.P. Morgan Chase & Co. 115,632 11,728
26 Hewlett-Packard 114,552 7,660
27 E.ON 113,849 11,670
28 Berkshire Hathaway 112,493 8,055
29 GDF Suez 111,069 6,223
30 Daimler 109,700 -3,670
31 Nippon Telegraph & Telephone 109,656 5,302
32 Samsung Electronics 108,927 7,562
33 Citigroup 108,785 -1,606
34 McKesson 108,702 1,263
35 Verizon Communications 107,808 3,651
36 Crédit Agricole 106,538 1,564
37 Banco Santander 106,345 12,430
38 General Motors 104,589 --
39 HSBC Holdings 103,736 5,834
40 Siemens 103,605 3,097
41 American International Group 103,189 -10,949
42 Lloyds Banking Group 102,967 4,409
43 Cardinal Health 99,613 1,152
44 Nestlé 99,114 9,604
45 CVS Caremark 98,729 3,696
46 Wells Fargo 98,636 12,275
47 Hitachi 96,593 -1,152
48 International Business Machines 95,758 13,425
49 Dexia Group 95,144 1,404
50 Gazprom 94,472 24,556
51 Honda Motor 92,400 2,891
52 Électricité de France 92,204 5,428
53 Aviva 92,140 1,692
54 Petrobras 91,869 15,504
55 Royal Bank of Scotland 91,767 -4,167
56 PDVSA 91,182 1,608
57 Metro 91,152 532
58 Tesco 90,234 3,690
59 Deutsche Telekom 89,794 491
60 Enel 89,329 7,499
61 UnitedHealth Group 87,138 3,822
62 Société Générale 84,157 942
63 Nissan Motor 80,963 456
64 Pemex 80,722 -7,011
65 Panasonic 79,893 -1,114
66 Procter & Gamble 79,697 13,436
67 LG 78,892 1,206
68 Telefónica 78,853 10,808
69 Sony 77,696 -439
70 Kroger 76,733 70
71 Groupe BPCE 76,464 746
72 Prudential 75,010 1,054
73 Munich Re Group 74,764 3,504
74 Statoil 74,000 2,912
75 Nippon Life Insurance 72,051 2,624
76 AmerisourceBergen 71,789 503
77 China Mobile Communications 71,749 11,656
78 Hyundai Motor 71,678 2,330
79 Costco Wholesale 71,422 1,086
80 Vodafone 70,899 13,782
81 BASF 70,461 1,960
82 BMW 70,444 284
83 Zurich Financial Services 70,272 3,215
84 Valero Energy 70,035 -1,982
85 Fiat 69,639 -1,165
86 Deutsche Post 69,427 895
87 Industrial & Commercial Bank of China 69,295 18,832
88 Archer Daniels Midland 69,207 1,707
89 Toshiba 68,731 -213
90 Legal & General Group 68,290 1,346
91 Boeing 68,281 1,312
92 U.S. Postal Service 68,090 -3,794
93 Lukoil 68,025 7,011
94 Peugeot 67,297 -1,614
95 CNP Assurances 66,556 1,396
96 Barclays 66,533 14,648
97 Home Depot 66,176 2,661
98 Target 65,357 2,488
99 ArcelorMittal 65,110 118
100 WellPoint 65,028 4,746

Data From the July 26, 2010 issue

Sumber: FORTUNE GLOBAL 500, Go to link:   



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Kamis, 26 Mei 2011

Generali Indonesia Targetkan 3 Besar Perusahaan Asuransi Jiwa

Meski pemain baru, Generali datang dengan segudang kekuatan. Dia pun bertekad untuk mewujudkan impiannya masuk tiga besar. Apa saja strateginya? (Apriyani Kurniasih) 

Ternyata pemain asing tidak mudah masuk pasar asuransi Indonesia. Kendati sudah lama mengincar Indonesia sebagai target pasar yang akan dijajaki, Generali baru bisa melebarkan sayap ke Indonesia pada 2008 dengan membeli lisensi Asuransi Jiwa Arta Mandiri Prima.

Pengalaman sebagai pemain terbesar untuk kategori employee benefit di dunia merupakan bekal perusahaan asal Italia ini terjun ke bisnis asuransi. Keunggulan dalam kecepatan proses serta inovasi produk yang beragam diyakini bakal memuluskan obsesinya untuk menjadi tiga besar di negeri ini.

Mengapa Generali baru belakangan melirik pasar asuransi Indonesia? Kekuatan apa yang dimilikinya untuk memenangi persaingan? Mengapa perusahaan ini terkesan “menyembunyikan diri” di balik upayanya yang terbilang gencar memasuki pasar asuransi di Tanah Air?

Berikut penuturan Edy Tuhirman, Chief Executive Officer (CEO) Asuransi Jiwa Generali Indonesia, kepada Karnoto Mohamad, Apriyani Kurniasih, dan Budi Urtadi (fotografer) dari infobanknews.com. Petikannya:

Apa strategi Generali untuk memasuki pasar asuransi Indonesia?

Pada 2009 kami fokus di employee benefit. Kami beruntung karena Generali merupakan pemain besar employee benefit di dunia. Di Indonesia, kami sudah memiliki hampir 200 klien dan kami fokus pada perusahan-perusahaan tersebut. Saat ini, nasabah kami sudah sekitar 8.000 dan number company sekitar 40.

Bagaimana positioning Generali di Indonesia?

Generali kalau kita kombinasikan antara life dan non life, nomor tiga besar di dunia. Jika life saja, kami dua besar. Namun, untuk employee benefit, kami nomor satu di dunia. Jadi, itu yang kami fokuskan.

Sebagai pemain baru, bagaimana Generali menembus peta persaingan di bisnis ini? 

Kami melihat ada gap yang sepertinya bisa dimasuki. Prosesnya seperti apa dan business model-nya bagaimana, itu yang benar-benar kami siapkan. Misalnya proses, hal itu bisa diperbaiki. Bagaimana kami dapat mempercepat proses dari aplikasi masuk hingga klaim.

Kami juga melakukan distribusi dengan cara yang berbeda. Sambil ngumpet, kami sudah bekerja sama dengan satu organisasi yang khusus menangani micro insurance. Hopefully, pertengahan tahun depan kami sudah bisa menggodok hal ini. Buat kami, ini bukan CSR (corporate social responsibility). Ini bisnis, ongoing process. Ini area yang menurut kami masih untouchable.

Banyak pemain dunia masuk dan menikmati market yang besar. Indonesia dari dulu sudah dilirik pemain dunia karena populasinya besar. Apa pertimbangan Generali baru masuk Indonesia saat ini?

Mungkin karena kami perusahaan yang terlalu konservatif. Setiap Generali masuk suatu negara, kami tak pernah pulled out. Ketika Generali masuk, itu harus dengan perhitungan yang sangat hati-hati. Kami juga menyadari setelah Tembok Berlin rontok, Eropa Timur menjadi daya tarik yang luar biasa lantaran dekat sekali dengan pusat kekuatan Generali di Eropa Barat. Akhirnya, Generali lebih dulu masuk Eropa Timur.

Belakangan kami baru masuk Asia. Sekitar 1970 kami masuk Hong Kong, Cina, India, Filipina, Thailand, Jepang, dan Singapura. Indonesia memang bagian dari rencana masuk. Tapi, untuk masuk Indonesia, tidak gampang. Akhirnya, kami menemukan jalan ketiga, yaitu membeli license Asuransi Jiwa Arta Mandiri Prima dari Manulife. Isinya diambil Manulife, license-nya kami beli. Kami mulai dari nol. Dan, kami ubah namanya menjadi PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia pada Oktober 2008.

Lalu, apa kekuatan yang diusung Generali ke Indonesia supaya dapat bersaing dan bertahan untuk jangka panjang? 

Satu, pengalaman Generali di negara-negara berkembang dan negara-negara yang sudah maju sangat besar pengaruhnya. Pengalaman itu membawa kami ke step berikutnya yang lebih kompetitif lagi. Operational procces ini kami bawa terus.

Bancassurance, misalnya, bukan hal baru bagi Generali. Malah, Generali kemungkinan bagian dari sejarah bancassurance itu sendiri. Di beberapa negara, kami begitu kuat. Jadi, kami tinggal mengimpor produk-produk yang ada di sana untuk diterapkan di Indonesia. Kami juga very efficient. Kami sangat mengandalkan proses.

Berapa jumlah provider saat ini?

Saat ini dengan Admedika (Administrasi Medika), provider kami sudah ada 527 rumah sakit. Kami juga terhubung dengan 30 jaringan rumah sakit di luar negeri.

Targetnya?

Penutupan November 2009 angkanya telah mencapai dua kali lipat dari target awal. Pada 2010 targetnya bisa mencapai empat kali lipat. Untuk lima hingga 10 tahun mendatang, kami targetkan untuk menjadi nomor tiga besar. Kami bukan short time player. Biarpun jalannya panjang, yang kami tempuh itu jalan yang benar dan solid.

Bagaimana dengan posisi ekuitas dan aset?

Aset masih di bawah Rp100 miliar, sedangkan ekuitas Rp65 miliar. Tahun depan kami sudah membuat rencana setiap tahun akan menambah terus jumlah aset dan ekuitas.

Rencana apa yang akan direalisasikan tahun ini?

Selain fokus di employee benefit, tahun ini kami mulai menjajaki bancassurance dengan produk individual, kombinasi antara proteksi dan investasi. Kami melakukan penjajakan ke tiga bank. Tahun ini kami akan meluncurkan sekitar empat hingga lima produk lagi.

Ada kantor cabang?

Kami tidak membuat business model pakai cabang. Di asuransi, cabang untuk pemasaran. Kalau buka kantor, buat proses saja untuk kecepatan.

Berapa tahun break event point (BEP)?

Lima tahun. Kami sangat konservatif. Generali selalu begitu. Kami inovatif dari segi ide dan produk, tapi konservatif di keuangan.

Targetnya berapa rata-rata pertumbuhan tiap tahun? 

Sekitar 120%-an per tahun.


Sumber: Infobanknews.com, Go to link:
http://www.infobanknews.com/2010/01/generali-indonesia-targetkan-3-besar-perusahaan-asuransi-jiwa
http://www.infobanknews.com/2010/01/generali-indonesia-targetkan-3-besar-perusahaan-asuransi-jiwa



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Rabu, 25 Mei 2011

Italia Minati Asuransi Syariah

06 Jan 2010


Oleh Yogie Respnti.


Perusahaan asuransi terkemuka Italia menggaet QIB.

Siapa tak kenal negeri asal makanan pizza? Roti tipis dengan aneka topping itu memang berasal dari Italia. Nah, rupanya daftar itu akan bertambah satu lagi yaitu menjadi negeri Eropa yang merambah dunia asuransi syariah.

Industri asuransi syariah global yang tumbuh pesat dalam beberapa waktu terakhir, telah mengundang perhatian perusahaan asuransi terbesar Italia. Adalah perusahaan asuransi Assicura-zioni Generali SpA yang menyatakan ketertarikannya untuk terjun ke industri tersebut. Bersamaan dengan tujuan tersebut perusahaan

Generali pun menggaet salah satu bank syariah terkemuka di dunia, yakni Qatar Islamic Bank (QIB) untuk membentuk perusahaan asuransi syariah.

Inilah perpaduan antara kemampuan teknis asuransi Generali yang dikombinasikan dengan pengetahuan pasar yang mendalam dan kemampuan distribusi QIB mengenai pasar asuran- si syariah di Teluk. Hasilnya, kerja sama yang terjalin pun memiliki nilai strategis. Dalam perjalanannya, asuransi syariah joint venture tersebut akan dibantu pula oleh perusahaan asuransi syariah, Beema, di mana sebagian sahamnya dimiliki oleh QIB.Asuransi syariah yang menjalankan prinsipnya sesuai dengan prinsip nilai-nilai Islam memiliki potensi pertumbuhan besar. Volume premi industri asuransi syariah di seluruh dunia diperkirakan sebesar 20 miliar dolar AS pada 2015. Dari jumlah tersebut, 30 persen di antaranya berada di pasar negara-negara Teluk.

Karenanya, dalam pemasarannya QIB akan meluncurkan produk asuransi syariah di negara-negara Teluk menyusul pembentukan asuransi syariah patungan dengan Generali dan Beema.

Chairman QIB, Sheikh Jassim bin Hamad bin Jassim bin Jabr al-Thani, menyambut baik peluang kerja sama strategis di sektor asuransi syariah tersebut."Rencana kami adalah meluncurkan produk asuransi syariah di negara Teluk terlebih dulu, memberikan prioritas pada pasar lokal dan regional. Setelahnya kami akan kembangkan ke area geografis lainnya yang memiliki pasar asuransi syariah," kata al-Thani.QIB telah malang melintang di industri perbankan syariah selama 27 tahun. Perusahaaan ini juga merupakan pionir di sektor ritel dan korporasi yang membantu menyediakan platform global bagi produk perbankan syariah.

Chief executive officer (CEO) Generali, Sergio Balbinot, mengatakan pihaknya terjun ke industri asuransi sya-
riah karena mempertimbangkan faktor demografi, ekonomi, dan industri asuransi secara menyeluruh. Ia menuturkan, seperempat dari populasi seluruh dunia adalah Muslim dan 60 persen di antaranya berusia di bawah 25 tahun. "Walau indeks penetrasi asuransi syariah masih rendah, saya yakin kerja sama dengan salah satu bank syariah terkemuka di dunia, yaitu QIB bersama dengan Beema memiliki potensi menjadi pemain asuransi syariah terkemuka di Teluk," kata Balbinot.Tak hanya itu, Balbinot pun menyatakan pasar tersebut akan meluas dan membuka peluang ke berbagasi segmen pasar baik di Eropa maupun Asia. Sementara itu CEO Beema, Ali Fadala, mengatakan bahwa joint venture dengan QIB dan Generali tersebut akan menggunakan keahlian Be"ema dalam pasar broker asuransi dan reasuransi di wilayah Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk memperkenalkan produk asuransi syariah perusahaan tersebut kepada masyarakat luas.

"Bersama dengan jangkauan global QIB dan pengalaman Generali di dunia asuransi, maka akan tercipta peluang menjangkau nasabah di seluruh dunia," kata Falada.Kita tunggu saja perkembangan embrio industri syariah di negeri pizza ini. Semoga kelak, Italia tak hanya dikenal karena memiliki tim sepak bola yang tangguh dan sebagai salah satu pusat kebudayaan Eropa, namun juga sebagai salah satu pusat industri keuangan syariah dunia. (wereuters/ameinfo, ed yeyen)

Entitas terkaitAli | Asuransi | Balbinot | Beema | Bersamaan | CEO | Chairman | Chief | Eropa | Generali | Hamad | Industri | Islam | Italia | Jabr | Jassim | Muslim | Perusahaaan | Perusahaan | QIB | Rencana | Roti | Semoga | Sergio | Setelahnya | Teluk | Volume | Walau | Sheikh Jassim | Yogie Respnti | Qatar Islamic Bank | Dewan Kerja Sama Teluk | Italia Minati Asuransi Syariah |
Ringkasan Artikel Ini
Dalam perjalanannya, asuransi syariah joint venture tersebut akan dibantu pula oleh perusahaan asuransi syariah, Beema, di mana sebagian sahamnya dimiliki oleh QIB. Karenanya, dalam pemasarannya QIB akan meluncurkan produk asuransi syariah di negara-negara Teluk menyusul pembentukan asuransi syariah patungan dengan Generali dan Beema. "Walau indeks penetrasi asuransi syariah masih rendah, saya yakin kerja sama dengan salah satu bank syariah terkemuka di dunia, yaitu QIB bersama dengan Beema memiliki potensi menjadi pemain asuransi syariah terkemuka di Teluk," kata Balbinot. Sementara itu CEO Beema, Ali Fadala, mengatakan bahwa joint venture dengan QIB dan Generali tersebut akan menggunakan keahlian Be"ema dalam pasar broker asuransi dan reasuransi di wilayah Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) untuk memperkenalkan produk asuransi syariah perusahaan tersebut kepada masyarakat luas. 


( Sumber: Bataviase.co.id, Go to link:  http://bataviase.co.id/detailberita-10482470.html )



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer